Minggu, 17 Mei 2009

Pembelajaran Berbasis PBL di FKH UGM

Perubahan kurikulum pengajaran di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menjadi sistem pengajaran berbasis SCL disusun berdasarkan SK Rektor UGM No. 22/P/SK/HT/2006, yang kemudian disetujui perubahannya dari TCL menjadi SCL pada Rapat Kerja Fakultas (RKF) pada tanggal 24 Januari 2006 dan disahkan pada RKF tanggal 21 Maret 2006. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Dekan FKH UGM menerbitkan SK Dekan No. 3209/J.01.1.22/HK3/2005 tentang Tim Penyusun Kurikulum baru FKH UGM berbasis SCL. Dalam pelaksanaan nya FKH UGM menerapkan suatu metode pembelajaran berbasis Problem Based Learning hal ini didasrkan oleh perubahan paradigma pendidikan kedokteran dari pembelajaran yang berpusat pada teacher (Teacher centre learning) ke arah pembelajaran yang berpusat pada pelajar (student centre learning) dapat dilihat dari banyaknya Fakultas kedokteran di dunia maupun di Indonesia yang menerapkan PBL. Penerapan PBL ini ada yang mengaplikasikannya dalam kontek kurikulum sehingga disebut kurikulum PBL. PBL juga ada yang menerapkan sebagai sebuah metode pendidikan.

Problem Based Learning adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata dan lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL.

Penerapan PBL di pendidikan kedokteran pertama kali di Mc Master University Canada pada dekade 1960 akhir. PBL berkembang dengan pesat hingga sampai juga di Indonesia.

Diskusi kelompok kecil dalam PBL dapat menggunakan metode seven jumps yang terdiri :

1. Identifikasi dan klarifikasi kata-kata sulit yang ada di dalam skenario. (sekretaris mencatat kata-kata yang masih belum dimengerti setelah didiskusikan)

2. Penentuan masalah. Setiap anggota memiliki bermacam perspektif masalah, akan tetapi harus dicari masalah yang disepakati bersama. (sekretaris mencatat daftar masalah yang telah disetujui).

3. Brainstorming. Anggota kelompok mendiskusikan dan menjelaskan masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki (prior knowledge). Identifikasi area pengetahuan yang kurang. (sekretaris menulis yang didiskusikan).

4. Berdasarkan langkah 2 dan 3 maka disusun penjelasan masalah dalam bentuk penjelasan sementara (tentative solution). (sekretaris mencatat penjelasan masalah sementara yang telah didiskusikan).

5. Penentuan Tujuan pembelajaran yang akan diraih. (Tutor mengarahkan agar tujuan pembelajaran fokus, dapat dicapai, komprehensip dan sesuai dengan yang diharapkan.)

6. Belajar mandiri. Mahasiswa belajar mandiri untuk mencari informasi yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran.

7. Setiap anggota kelompok menjelaskan hasil belajar mandiri mereka dan saling berdiskusi. (Tutor menilai jalannya proses ini sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan).

Dalam pelaksanaan nya diharapkan mahasiswa FKH UGM dapat menjadi pembelajar aktiv dan mandiri dan juga dapat menerapkan pembelajar sesuau dengan motto pembelajaran di UGM yaitu " ginong prati dina, ginong prati dina " yang berarti kita harus terus belajar dimana pun dan kapan pun . Tetapi dalam penerapanya berbagai kontraversi pun tercjadi baik dikalangan dosen maupun mahasiswa, banyak mahasiswa menganggap kurikulum yang ada kurang cocok untuk pembelajaran di Kedokteran Hewan menginggat berbagai hal diantaranya dikarenakan kurang nya fasilitas yang diberikan oleh instasi terkait dalam upaya penujangan fasilitas belajar dan mengajar, banyak materi yang dihilangkan padahal dalam menjalankan profesinya kita membutuhkan kemampuan tersebut untuk mencapai standart kualifikasi dokter hewan, ketidak sinergisan antara pembelajaran dalam sekenario dengan praktikum yang dilakukan oleh mahasiswa dan banyak permasalahan yang timbul dalam hal tersebut. Menurut salah satu penuturan mahasiwa FKH menyatakan keluhan nya dalam diskusi seminar blok pada beberapa waktu yang lalu di ruang auditorium FKH UGM dia menyatakan bahwa seharus nya pengajar lebih dapat memahami mahasiswa dan memberikan motivasi kepada mahasiswa agar lebih baik bukan hanya memberikan komentar yang dapat menjatuhkan kondisi mental mahasiswa, dan diharapkan para pengajar dapat bertindak secara profesional dalam menjalankan profesinya sebagai pengajar, dalam diskusi ini pihak fakultas akan berjanji memaksimalkan kinerja dari tim pengawas blok dan akan segera memperbaiki sisi buruk dari kurikulum ini sehingga diharapkan mahasiswa lebih baik dan menganggap sistem pembelajaran seperti ini tidak menjadi beban bagi mahasiwa, tetapi pada kenyataan masih banyak hal - hal yang belum direfisi dan kurang menjadi sorotan tim pengawasan blok ini, jadi apakah dengan diadakan tim pengawasan blok ini efektiv untuk menangulangi semua masalah pada sistem pendidikan berbasis PBL ini?. Seharusnya kita sebagai mahasiswa dapat menangapi hal ini dengan memulai pembenahan diri kita masing - masing karena yang dapat mengubah masa depan kita hanya lah dari diri kita sendiri bukan dengan hanya menunggu pembenahan dari sistem pembelajaran tersebut, untuk mecapai kualifikasi sebagai dokter hewan yang profesional dadikemudian hari dapat memberikan pengabdia nyata kepada negara dan masyarakat serta membangun indonesia yang lebih baik dalam dunia kesehatan marilah kita bersama sama berusaha dan berjuang demi masa depan diri kita, keluarga, orang lain, masyarakat dan negara. ( Alief, UGM"08 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar