Pakar virologi UGM, Prof. drh. Widya Asmara, S.U., Ph.D., menyarankan agar pemerintah memperketat karantina di pintu masuk bandara dan pelabuhan. Hal itu perlu dilakukan guna mengantisipasi wabah flu babi (swine influenza) yang berjangkit di Meksiko jangan sampai masuk ke Indonesia. Menurutnya, peran karantina di pintu masuk bandara dan pelabuhan sangat penting untuk mendeteksi dan mengantisipasi orang-orang yang mungkin membawa virus tersebut.
“Intensifkan peran karantina dan pemeriksaan kesehatan di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara guna menutup masuknya orang-orang dari Amerika Latin dan Amerika Utara yang berisiko membawa virus ini,” kata Widya kepada wartawan di kampus UGM, Senin (27/4).
Menurut peneliti Pusat Studi Bioteknologi ini, flu babi pada manusia di Meksiko diduga disebabkan oleh strain baru virus H1N1 yang mirip virus influensa. “Dari data yang sampai sekarang dianalisis, memang virusnya H1N1 berasal dari babi. Yang terjadi di Meksiko sudah memungkinkan penularan dari orang ke orang,” tuturnya.
Widya menjelaskan strain virus ini kemungkinan besar ada yang mengalami mutasi sehingga dapat menular dari manusia ke manusia. “Sangat mungkin menular ke orang. Di Amerika, flu babi sudah pernah terjadi pada 1976. Akibat tertular dari babi, seorang tentara meninggal karena virus swine influenza, tapi dulu tidak sebanyak ini korban seperti di Meksiko,” ujarnya.
Percepatan mutasi ke manusia atau faktor penularan dari babi ke manusia sama halnya dengan penularan flu burung. Jadi, dapat melalui kontak secara langsung atau dengan bahan-bahan yang tercemar virus.
“Masalahnya, yang dikhawatirkan virus ini dibawa orang yang tertular ke tempat lain dengan moda transportasi yang begitu cepat seperti sekarang,” imbuhnya.
Diakui oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM ini, virus flu babi menunjukkan perkembangan cukup cepat di negara tropis, seperti halnya di Indonesia. Meski begitu, virus ini tidak berhubungan dengan peternakan-peternakan babi. Untuk sementara ini, kata Widya, peternakan babi di dalam negeri relatif masih aman , tidak ada satu pun yang ditemukan virus influenza H1N1. Oleh karena itu, peternakan babi di Indonesia tidak perlu mendapat perlakukan khusus.
“Sampai saat ini tidak perlu diperlakukan khusus karena tidak ada masalah. Yang penting tetap ditingkatkan budaya ternak yang sehat sama seperti waktu wabah flu burung,” pesannya.
Mirip Flu Burung
Disebutkan oleh Widya, gejala yang muncul pada penderita flu babi mirip dengan gejala flu burung. Gejalanya lebih ringan, tetapi dapat menimbulkan kematian. Sampai saat ini, jumlah korban meninggal mencapai 103 orang dari 1600 orang yang diperkirakan telah tertular.
“Seperti sakit kepala, demam, iritasi pada mata, ngilu di seluruh badan, dan akhirnya bisa menimbulkan kematian. Tetapi gejala sesak nafasnya tidak seperti pada avian influenza atau flu burung,” jelasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar