Senin, 18 Mei 2009

Aset Negara Yang TerLupakan Dalam Pemilu

Indonesia disebut sebagai negara mega biodiversity karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Sejarah geologi dan topografi Indonesia juga mendukung kekayaan dan kekhasan hayatinya. Misalnya, letak Indonesia dalam lintasan distribusi keanegaragaman benua Asia, benua Australia dan peralihan Wallacea, adanya variasi iklim bagian barat yang lembab dan bagian timur yang kering sehingga mempengaruhi pembentukan ekosistem dan distribusi binatang dan tumbuhan di dalamnya sehingga hal ini harus di lestarikan demi terjaganya sumber kekayaan bumi yang tidak pernah ternilai ini. Tetapi berdasar data Departemen Kehutanan pada tahun 2003, luas hutan Indonesia adalah 120,35 juta hektar dan yang mengalami kerusakan sudah mencapai 43 juta hektar. Sedangkan data dari Badan Pangan Dunia (FAO) tahun 2006, hutan Indonesia hilang 1,87 juta hektar per tahun dan diprediksi hutan di Indonesia hanya tinggal 88 juta hektar sehingga pada tahun 2007 Indonesia mendapat `anugerah` sebagai negara penghancur tercepat hutan oleh Guinnes World Record.

Ironis nya meskipun hutan dan satwa liar berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan hanya beberapa pihak saja yang melihat hal ini dan turut menunjang keberlangsungan terjaganya sumber daya ini. Padahal banyak kasus kepunhan yang terjadi contohnya saja babi rusa. Babi rusa adalah satwa yang sudah punah ,karena saat ini babirusa sudah sangat mustahil ditemukan,babirusa terakhir dilepaskan ke habitat aslinya di sulawesi pada tahun 1978, tapi sampai sekarang satwa tersebut tidak pernah terlihat lagi,dan dipastikan satwa ini sudah punah, masih bayak kasus - kasus lain yang dapat mencerminkan kurang nya kinerja dari pemerintah dalam menanggapi kasus - kasus seperti ini,hal ini seharusnya menjadi cermina pada pemerintah yang selanjutnya untuk lebih memperhatikan satwa liar dan hutan.

Sangat disayangkan dalam marak pemilu kali ini,dari sekian banyak partai politik yang ada di pemerintahan Indonesia tidak ada satu pun dari partai politik tersebut yang mencanangkan visi dan misinya untuk menjaga keberadaan sumber daya alam yang ada di Indonesia dalam permasalah pelestarian hutan dan satwa liar, seharusnya hal ini mendapat perhatian serius dari semua pihak termasuk partai politik, karena degradasi hutan dan satwa liar adalah sebuah bencana secara ekologi dan ekonomi.

Selain itu banyak tindakan yang didalam pemilu dapat dikatagorikan sebagai tindakan kekerasan pada satwa yang dapat melanggar kesejahteran hewan.Kekerasan yang sering muncul adalah membawa satwa liar dalam pawai atau arak-arakan selama kampanye. Satwa liar yang seringkali dibawa dalam pawai kampanye rata-rata adalah jenis satwa liar yang terancam punah seperti orangutan, elang, lutung serta kakatua.Padahal membawa satwa liar dalam pawai tersebut akan membuat satwa stress dan menderita seperti pada Pemilu 2004 majalah ProFauna mencatat ada lebih dari 50 kasus kekerasan yang terjadi pada satwa liar.

Di samping mengakibatkan satwa stress, membawa satwa yang dilindungi dalam kampanye adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap satwa dan melanggar ketentuan dari UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam UU tersebut disebutkan bahwa setiap orang dilarang menyimpan, memelihara dan mengangkut satwa dilindungi. Pelanggar dari ketentuan ini dapat diancam hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Karena itu seharusnya pihak partai politik yang akan menduduki bangku pemerintahan yang akan datang seharusnya lebih tanggap dalam menangani kasus -kasus tersebut karna sumber daya alam indonesia harus dipertahankan dan dijaga, salah satunya adalah aset hutan dan satwa yang sangat tidak ternilai haraganya. ( Alief, FKH UGM'08)


7.700 Penyu Tertangkap Alat Pancing

KOMPAS/AHMAD ARIF

Rabu, 13 Mei 2009 | 08:13 WIB

BITUNG, KOMPAS.com — Organisasi peduli lingkungan World Wildlife Fund (WWF) minta lebih banyak dukungan publik untuk pelestarian penyu laut. Diperkirakan, lebih dari 7.700 penyu tertangkap alat pancing atau menjadi tangkapan sampingan dalam penangkapan ikan tuna dengan kapal rawai panjang.

“Beberapa komunitas pesisir telah menunjukkan kesadaran untuk menyelamatkan penyu, namun masih membutuhkan peran serta semua pihak,” kata Pemimpin Program Penyu WWF Indonesia, Creusa Hitipeuw di area konservasi penyu Kampung Tuloun, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Rabu.

Creusa mengatakan, warga Kampung Tuloun yang berada sekitar 70 kilometer dari Kota Manado serta komunitas Jamursba Medi di daerah “kepala burung” Papua merupakan perintis konservasi penyu berbasis masyarakat yang bisa direplikasi di daerah lain.

Menurut dia, inisiatif masyarakat di daerah pesisir untuk menyelamatkan penyu tersebut sangat penting dalam upaya konservasi penyu laut. “Kami harus memastikan setiap telur menetas dan setiap tukik hidup. Kehidupan masyarakat pesisir dekat dengan habitat penyu, jadi peran mereka dalam hal ini sangat penting,” katanya.

Ia menjelaskan, pelestarian penyu mesti dilakukan dengan pendekatan terpadu, termasuk melindungi area habitat penyu, menekan permintaan daging dan telur penyu dan mengurangi tangkapan sampingan dengan menggunakan alat tangkap yang tepat.

“Diperkirakan lebih dari 7.700 penyu tertangkap alat pancing atau menjadi tangkapan sampingan dalam penangkapan ikan tuna dengan kapal rawai panjang,” tambah Koordinator Tangkapan Sampingan WWF Indonesia Ahmad Hafizh Adyas.

Antisipasi Flu Babi, Perketat Karantina di Bandara dan Pelabuhan

Pakar virologi UGM, Prof. drh. Widya Asmara, S.U., Ph.D., menyarankan agar pemerintah memperketat karantina di pintu masuk bandara dan pelabuhan. Hal itu perlu dilakukan guna mengantisipasi wabah flu babi (swine influenza) yang berjangkit di Meksiko jangan sampai masuk ke Indonesia. Menurutnya, peran karantina di pintu masuk bandara dan pelabuhan sangat penting untuk mendeteksi dan mengantisipasi orang-orang yang mungkin membawa virus tersebut.

“Intensifkan peran karantina dan pemeriksaan kesehatan di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara guna menutup masuknya orang-orang dari Amerika Latin dan Amerika Utara yang berisiko membawa virus ini,” kata Widya kepada wartawan di kampus UGM, Senin (27/4).

Menurut peneliti Pusat Studi Bioteknologi ini, flu babi pada manusia di Meksiko diduga disebabkan oleh strain baru virus H1N1 yang mirip virus influensa. “Dari data yang sampai sekarang dianalisis, memang virusnya H1N1 berasal dari babi. Yang terjadi di Meksiko sudah memungkinkan penularan dari orang ke orang,” tuturnya.

Widya menjelaskan strain virus ini kemungkinan besar ada yang mengalami mutasi sehingga dapat menular dari manusia ke manusia. “Sangat mungkin menular ke orang. Di Amerika, flu babi sudah pernah terjadi pada 1976. Akibat tertular dari babi, seorang tentara meninggal karena virus swine influenza, tapi dulu tidak sebanyak ini korban seperti di Meksiko,” ujarnya.

Percepatan mutasi ke manusia atau faktor penularan dari babi ke manusia sama halnya dengan penularan flu burung. Jadi, dapat melalui kontak secara langsung atau dengan bahan-bahan yang tercemar virus.

“Masalahnya, yang dikhawatirkan virus ini dibawa orang yang tertular ke tempat lain dengan moda transportasi yang begitu cepat seperti sekarang,” imbuhnya.

Diakui oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM ini, virus flu babi menunjukkan perkembangan cukup cepat di negara tropis, seperti halnya di Indonesia. Meski begitu, virus ini tidak berhubungan dengan peternakan-peternakan babi. Untuk sementara ini, kata Widya, peternakan babi di dalam negeri relatif masih aman , tidak ada satu pun yang ditemukan virus influenza H1N1. Oleh karena itu, peternakan babi di Indonesia tidak perlu mendapat perlakukan khusus.

“Sampai saat ini tidak perlu diperlakukan khusus karena tidak ada masalah. Yang penting tetap ditingkatkan budaya ternak yang sehat sama seperti waktu wabah flu burung,” pesannya.

Mirip Flu Burung

Disebutkan oleh Widya, gejala yang muncul pada penderita flu babi mirip dengan gejala flu burung. Gejalanya lebih ringan, tetapi dapat menimbulkan kematian. Sampai saat ini, jumlah korban meninggal mencapai 103 orang dari 1600 orang yang diperkirakan telah tertular.

“Seperti sakit kepala, demam, iritasi pada mata, ngilu di seluruh badan, dan akhirnya bisa menimbulkan kematian. Tetapi gejala sesak nafasnya tidak seperti pada avian influenza atau flu burung,” jelasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)