Kamis, 10 September 2009

BURUKNAYA PENGELOLAN KONSERVASI DIWARNAI BERKURANGNYA MINAT SATWA LIAR INDONESIA

Oleh : Hizriah Alief ( Mahasiswa Kedokteran Hewan UGM)

Yogyakarta – Indonesia disebut sebagai negara mega biodiversity karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Sejarah geologi dan topografi Indonesia juga mendukung kekayaan dan kekhasan hayatinya. Misalnya, letak Indonesia dalam lintasan distribusi keanegaragaman benua Asia, benua Australia dan peralihan Wallacea, adanya variasi iklim bagian barat yang lembab dan bagian timur yang kering sehingga mempengaruhi pembentukan ekosistem dan distribusi binatang dan tumbuhan di dalamnya sehingga hal ini harus di lestarikan demi terjaganya sumber kekayaan bumi yang tidak pernah ternilai ini.

Tetapi masalah klasikal yang terus dibicarakan adalah masalah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam ini. Kurangnya Sumber Daya Manusia yang dicetak oleh Indonesia menjadi masalah klasik yang dari dulu belum pernah terselesaikan hingga saat ini. Seperti yang dikutip dalam harian KOMPAS bahwa data Badan Konservasi Dunia (IUCN) menunjukkan, sejumlah satwa liar khas Indonesia masuk kategori terancam punah, seperti orangutan, komodo, harimau sumatera, dan badak jawa. Tetapi di sisi lain tidak mudah untuk menemukan seseorang yang ahli dalam negeri yang benar-benar mendalaminya. Untuk kebutuhan seorang peneliti atau pun seseorang yang ahli saja Indonesia masih kekurangan apalagi tenga dokter medis hewan yang bergerak dalam satwa liar yang telah kita ketahui bersama hanya beberapa universitas yang mencetak dokter – dokter hewan yang ada di Indonesia diantaranya UNSYAH, IPB, UGM, UNAIR,UWKS, UNIBRAW, UNUD, dan UWKS dan dokter hewan yang telah dicetak bukan hanya dikhususkan unuk bergerak dalam satwa liar tetapi dibagi lagi menjadi beberapa sektor, diantaranya peternakan, klinik hewan kecil, aquatik, dan lain sebagainya.

Hal ini menggambarkan bahwa betapa ironisnya Indonesia dengan jumlah penduduk yang lebih dari 225 juta jiwa tetapi tidak sanggup untuk mengelola Sumber Daya Alam yang ada karena, terlebih lagi untuk mengelola, bahkan untuk rekam data satwa liar yang ada di Indonesia. Indonesia masih kurang di banding Negara lain, padahal di Amerika, Jepang, Jerman dan Australia bertumpuk buku – buku, jurnal, artikel, majalah dan lain sebagainya mengenai satwa – satwa yang ada di Indonesia. Upaya konservasi gencar dilakukan oleh pihak asing seperti yang diberitakan pada www. advocacy.britannica.com. Negara luar membentuk suatu International Animal Rescue’s project in Indonesiauntuk menangani masalah satwa liar di Indonesia. Sangat disayangankan, terlebih lagi berkurangnya minat akan zoologi ditingkatan sarjana sebagi penerus konservasi satwaliar akan menimbulkan dampak yang sangat nyata dikemusian hari. Seperti yang dikutip dari harian KOMPAS, minimnya penelitian zoologi juga terpantau di tingkat sarjana. Penelitian dua bulan terakhir di enam perguruan tinggi besar di Jawa Tengah menunjukkan, jumlah skripsi terkait zoologi sangat minim, dan mungkin hanya tercata sekitar 1% saja. Lagi – lagi kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa betapa buruknya Sumber Daya Manusia yang ada di Indonesia. Kondisi tersebut dimaknai sebagai hal yang mengkhawatirkan karena minimnya minat calon sarjana untuk meneliti zoologi apalagi untuk medis konservasi satwa liar (Nde).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar